Arrow

MENUJU RIAU 1//////////////////////////////

MENUJU RIAU 1//////////////////////////////


You are browsing with label: Showing posts with label Wisata. Show all posts
Bangkinang,(Global)
Adat Istiadat Bangkinang, Kampar dan sekitarnya. Lalu saya coba search di google. Nah saya ketemu tulisan dan foto-foto bertema Acara Adat Pernikahan Bangkinang Kampar, langsung deh saya repost di weblog Wisata Riau | Pekanbaru Riau ini. Tentunya dengan mencantum sumber sebagai etika seorang Blogger yang baik.

Berikut ini foto-foto beberapa ritual dalam acara adat (budaya) resepsi pernikahan di Bangkinang, Kabupaten Kampar dan sekitarnya, bisa juga disebut acara adat (budaya) resepsi pernikahan "ocu deyen."
- Para ibu-ibu dan tetangga dekat sedang memasak untuk acara Resepsi Pernikahan, biasanya diadakan di rumah mempelai perempuan.

Pengantin Laki ke rumah perempuan Adat Budaya Kampar

Di Kabupaten Kampar dari zaman ninik mamak terdahulu, apa bila ada saudara sekampung yang hendak menikah, maka keluarga dari mempelai yang hendak menikah harus memanggil para tetangga kampung untuk membantu kegiatan memasak yang dilakukan 3 hari ataupun sehari sebelum acara resepsi pernikahan berlangsung (hitungan ini tergantung dari keluarga mempelai), karena masyarakat kampar sejak dulu dikenal dengan cara bergotong royong ini pula, maka di kampar jarang sekali yang melakukan "catering" untuk acara pernikahan.

- Acara Shalawatan (Badiqiu)

Badiqiu merupakan suatu acara Budaya sakral yang dilakukan oleh para tokoh-tokoh dan sesepuh adat pada malam hari sebelum acara resepsi pernikahan dilakukan, agar acara pernikahan ini berlangsung dengan hikmat dan keluarga yang baru menjadi keluarga yang utuh hingga akhir hayat.

- Acara Pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan (Ba'aghak)

Dengan dentuman Rebana dari para tokoh adat ini, menambah kehikmatan nilai budaya yang sakral pada acara pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan, biasanya shalawatan selalu di kumandang kan hingga akhirnya Pihak Lelaki sampai kerumah Pihak Perempuan.

Akhirnya Mempelai Lelaki sampai juga ke rumah Mempelai Perempuan, dan mereka langsung dipertemukan kemudian di persandingkan.

- Acara Pengantaran Pihak Lelaki dengan membawa Hantaran (Jambau)

Seperti adat di daerah lainnya, hantaran juga berlaku di kabupaten kampar, tetapi tidak terlalu mengikat, "jika mempelai lelaki tidak mampu untuk memberikanhantaran, maka ini tidak di wajibkan untuk membawa hantaran (Jambau), ini bisa kita temui di beberapa daerah saja di kabupaten kampar.(Rgc-wisatariau)


Putri Tujuh adalah cerita Rakyat yang berasal dari Kota Dumai, berikut ceritanya:Dulu, Dumai hanyalah sebuah dusun nelayan yang sepi, berada di pesisir Timur Propinsi Riau, Indonesia.

Kini, Dumai yang kaya dengan minyak bumi itu, menjelma menjadi kota pelabuhan minyak yang sangat ramai sejak tahun 1999. Kapal-kapal tangki minyak raksasa setiap hari singgah dan merapat di pelabuhan ini. Kilang-kilang minyak yang tumbuh menjamur di sekitar pelabuhan menjadikan Kota Dumai pada malam hari gemerlapan bak permata berkilauan. Kekayaan Kota Dumai yang lain adalah keanekaragaman tradisi. Ada dua tradisi yang sejak lama berkembang di kalangan masyarakat kota Dumai yaitu tradisi tulisan dan lisan.

Salah satu tradisi lisan yang sangat populer di daerah ini adalah cerita-cerita rakyat yang dituturkan secara turun-temurun. Sampai saat ini, Kota Dumai masih menyimpan sejumlah cerita rakyat yang digemari dan memiliki fungsi moral yang amat penting bagi kehidupan masyarakat, misalnya sebagai alat pendidikan, pengajaran moral, hiburan, dan sebagainya. Salah satu cerita rakyat yang masih berkembang di Dumai adalah Legenda Putri Tujuh. Cerita legenda ini mengisahkan tentang asal-mula nama Kota Dumai.
Bangkinang,(Global)
Adat Istiadat Bangkinang, Kampar dan sekitarnya. Lalu saya coba search di google. Nah saya ketemu tulisan dan foto-foto bertema Acara Adat Pernikahan Bangkinang Kampar, langsung deh saya repost di weblog Wisata Riau | Pekanbaru Riau ini. Tentunya dengan mencantum sumber sebagai etika seorang Blogger yang baik.

Berikut ini foto-foto beberapa ritual dalam acara adat (budaya) resepsi pernikahan di Bangkinang, Kabupaten Kampar dan sekitarnya, bisa juga disebut acara adat (budaya) resepsi pernikahan "ocu deyen."
- Para ibu-ibu dan tetangga dekat sedang memasak untuk acara Resepsi Pernikahan, biasanya diadakan di rumah mempelai perempuan.

Pengantin Laki ke rumah perempuan Adat Budaya Kampar

Di Kabupaten Kampar dari zaman ninik mamak terdahulu, apa bila ada saudara sekampung yang hendak menikah, maka keluarga dari mempelai yang hendak menikah harus memanggil para tetangga kampung untuk membantu kegiatan memasak yang dilakukan 3 hari ataupun sehari sebelum acara resepsi pernikahan berlangsung (hitungan ini tergantung dari keluarga mempelai), karena masyarakat kampar sejak dulu dikenal dengan cara bergotong royong ini pula, maka di kampar jarang sekali yang melakukan "catering" untuk acara pernikahan.

- Acara Shalawatan (Badiqiu)

Badiqiu merupakan suatu acara Budaya sakral yang dilakukan oleh para tokoh-tokoh dan sesepuh adat pada malam hari sebelum acara resepsi pernikahan dilakukan, agar acara pernikahan ini berlangsung dengan hikmat dan keluarga yang baru menjadi keluarga yang utuh hingga akhir hayat.

- Acara Pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan (Ba'aghak)

Dengan dentuman Rebana dari para tokoh adat ini, menambah kehikmatan nilai budaya yang sakral pada acara pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan, biasanya shalawatan selalu di kumandang kan hingga akhirnya Pihak Lelaki sampai kerumah Pihak Perempuan.

Akhirnya Mempelai Lelaki sampai juga ke rumah Mempelai Perempuan, dan mereka langsung dipertemukan kemudian di persandingkan.

- Acara Pengantaran Pihak Lelaki dengan membawa Hantaran (Jambau)

Seperti adat di daerah lainnya, hantaran juga berlaku di kabupaten kampar, tetapi tidak terlalu mengikat, "jika mempelai lelaki tidak mampu untuk memberikanhantaran, maka ini tidak di wajibkan untuk membawa hantaran (Jambau), ini bisa kita temui di beberapa daerah saja di kabupaten kampar.(Rgc-wisatariau)

Pekanbaru,(Global)
Kuliner di Pekanbaru, Jus Tiga Rasa di Pondok Makanan Khas Melayu - Untuk mengembangkan dan memperkenalkan budaya khas melayu dapat dilakukan dengan berbagai cara terutama dikota Pekanbaru yang dikenal dengan kota bertuah. Selain budaya atau adat istiadat melayu, pakaian melayu, masih terdapat satu lagi yang memiliki ciri khas melayu yang terdapat di kota bertuah ini yaitu makanan dan minuman khas melayu.

Untuk mendapatkan makanan khas melayu dapat ditemukan disalah satu pondok makanan khas melayu (PMKM) yang terletak di Jalan Simpangtiga Pekanbaru, Riau. Aneka makanan dan minuman khas melayu yang siap untuk disantap yang selalu mengoyangkan dan membuka selera makan bagi masyarakat kota Pekanbaru maupun pengunjung yang dating dari luar kota Pekanbaru.

Ibu Yusmiati, merupakan pemilik sekaligus pengelola pondok makanan khas melayu ini,mengatakan bahwa ide untuk mengembangkan usaha ini muncul saat ia melakukan kunjungan kenegara tetangga yaitu Malaysia , Singapore , dan Negara tetangga lainnya.

Pondok makanan khas melayu ini menyajikan berbagai macam aneka rasa makanan melayu diantarannya, ayam goring kampung asli, asampedas tempoyak, sambal belacan, dan kerang khas melayu. Selain makanan di sini terdapat minuman jus yang sangat unik yaitu minuman jus tiga rasa buah. Minuman inilah yang membuat setiap pengunjung pondok makanan khas melayu ini ingin mampir untuk yang kesekian kalinya.

Uniknya minuman jus khas melayu yang dibuat oleh wanita 50 tahun silam ini sangat berbeda dengan jus yang biasanya dijumpai dikebanyakan rumah makan yang ada dikota pekanbaru. Sering dijumpai minuman jus itu hanya memiliki satu rasa buah saja, tetapi minuman jus disini memiliki tiga rasa buah yang berbeda-beda.

Ibu dari dua orang anak ini dapat inspirasi membuat jus tiga rasa buah ini, pada awalnya hanya mencoba saja dengan mengkombinasikan berbagai macam rasa buah,dan ternyata jus ini mendapat memberikan apresiasi lebih dari keluarga, karyawan maupun pengunjung yang datang kesini.

Menurut wanita yang telah mempunyai kurang lebih 30 orang karyawan ini, pada dasarnya kesuksesannya kini tidaklah terlepas dari kerja keras dan dukungan keluarganya dan tidak lepas dari orang-orang yang menyukai makanan melayu di pondok makanan khas melayu miliknya ini.(Rgc-wisatariau)

Pekanbaru,(Global)
Bila bepergian ke luar kota, saya termasuk orang yang tidak suka membawa oleh-oleh dalam bentuk makanan. Tapi jika bepergian ke Riau untuk pulang kampung atau urusan pekerjaan , mau tak mau - dengan sedikit terpaksa saya harus memenuhi permintaan teman-teman sekantor di Jakarta untuk membawa Oleh-oleh Makanan Khas Dari Daerah Riau.

Setelah trial and error selama beberapa tahun, ternyata yang paling disukai teman-teman sekantor saya adalah Bolu Kemojo karena alasan rasa, juga mereka anggap sangat khas dari Riau. Rasanya yang legit dan manis lebih di terima lidah banyak orang, dibanding (misalnya) lempuk durian yang sebagian orang tidak suka dengan aromanya.

Bolu Kemojo adalah makanan khas Pekanbaru, yang dipopulerkan kembali oleh Dinawati pada tahun 1998. Setahu saya, sebelumnya kue ini hanya dibuat untuk konsumsi keluarga saja, tidak dijual secara komersial apalagi dijual sebagai oleh-oleh. Dulu ketika berkantor di Jalan Pelajar Pekanbaru di awal tahun 2000an, saya beberapa kali mampir di gerai Bolu Kemojo Al Mahdi milik Dinawati yang terletak hanya beberapa ratus meter dari kantor saya. Saat itu tidak mudah mendapatkan Bolu Kemojo. Atas jasa Dina-lah, kini telah bermunculan para pengusaha bolu sejenis. Sekarang Bolu Kemojo bisa didapatkan di beberapa toko oleh-oleh yang terdapat Jalan Sudirman serta di Bandara SSQ II Pekanbaru. Dari awalnya yang hanya rasa pandan, sekarang sudah ada belasan varian rasa bolu kemojo. Tapi menurut saya rasa original (rasa pandan) tetap yang paling enak.(Rgc-wisatariau)

Pekanbaru,(Global)
Sop Tunjang pertama di Kota Pekanbaru Riau. Sangat disayangkan sekali kalau anda berkunjung ke Pekanbaru tidak menikmati jajanan khas Kota Pekanbaru. Berbagai macam sajian kuliner khas kaki lima murah meriah terhampar disepanjang jalan-jalan di Kota Pekanbaru. Berikut ini kita akan mendengarkan cerita salah seorang kawan (Eddy Sebayang) yang berkunjung ke Kota Pekanbaru dan menikmati Wisata Kuliner Kota Pekanbaru Riau, "Sop Tunjang Pertama"
"""
Kebetulan beberapa hari kemarin saya dan juga beberap rekan dan atasan berada di kota Pekanbaru untuk suatu tugas. Tugas mulia. Berusaha memberikan layanan dan memenuhi kebutuhan masyarakan kota Pekanbaru akan komunikasi selular. Dan hari Jum’at kemarin adalah hari terakhir kami disana. Sebelum meninggalkan kota Pekanbaru saya dan rekan saya berencana buka puasa dng makanan khas kota Pekanbaru. Setelah berdiskusi dan meminta saran termasuk dari driver kami yg memang penduduk kota Pekanbaru, maka kami memilih buka puasa makan Soup Tunjang. Dan pilihannya adalah Rumah Makan Soup Tunjang Pertama di jalan Pinang.

Namanya memang Rumah Makan Sop Tunjang Pertama. Saya sendiri kurang tahu, apakah memang rumah makan ini yang pertama kali memperkenalkan sop tunjang atau hanya sekedar namanya saja. Teletak dijalan Pinang No. 36. Masuk dari jalan Jend. Sudirman belok kiri, setelah melewati tempat makan durian Yudi. Masuk kedalam jalan Pinang sekitar 100 meter saja. Berada disebelah kanan jalan, bangunan masih dari papan, berwarna cat orange tapi bersih dan tertata rapi. Nyaman… dan bagi Anda yang menginap di Hotel Pangeran Jl. Jend. Sudirman, Pekanbaru. Tinggal menyebrangi jalan Jend. Sudirman. Jalan Pinang ini berada persis lurus dng pintu keluar Hotel Pangeran, Pekanbaru. Dekat sekali.

Menu yang disediakan antara lain, Sop Daging Sapi, Sop Ayam dan tentu saja Sop Tunjang. Saya penasaran, seperti apa sih yang namanya Sop Tunjang itu. Apakah memang potongan daging tunjang yang disopu. Atau sejumlag dengkul sapi yang masih terbungkus daging tunjang yang di sop. Bingung…makanya saya mau coba.
Kami masing-masing memesan satu porsi Sop Tunjang dan sepiring nasi. Dan ya ampun nasinya sedikit sekali. Bila dibanding dng nasi padang yang terkadang kelewat banyak. Tapi jangan khawatir, bisa nambah kok.

Tidak berapa lama hidangan datang. Ternyata yang namanya Sop Tunjang itu nggak beda dng Sop daging sapi lainya. Yaitu; semangkok Sop berisi potongan daging sapi, ada tulang iga yang terbungkus daging, juga tulang lainnya dengan daging dan tetelan yang masih menempel dan sekerat tunjang. Isi yang disajikan memang nggak jauh berbeda dengan soup pada umumnya. Tapi aromanya berbeda dng sop dari Medan atau sop dari Aceh. Aroma lada dan daun seledri sangat terasa. Hhe.e m m m… karena belum beduk, jadi kami hanya bisa mencium aromanya saja dulu. Belum boleh mencicipi, belum waktunya untuk berbuka puasa. Semuanya pura-pura cuek, padahal hidung ini sudah kembang kempis berusaha menahan sambaran aroma merica dan daun seledri dari Sop Tunjang yang sudah terhidang ini. Kok perasaan waktu jadi makin lambat ya?.

Tidak beberapa lama tiba-tiba suasana menjadi hening, yah karena semua tamu berusaha memasang telinga masih-masing, sensor telinga menjadi peka. Berusaha menangkap kalau-kalau ada suara adzan berkumandang. Dan benar saja, sayup-sayup terdengar suara adzan. Alhamdulillah..tiba juga waktunya berbuka puasa. Segera saya mencicipi kuahnya….yap…seperti dugaan saya, terasa sekali pedas merica. Nikmat sekali ditambah dng taburan daun seledri yang harum mengundang selera. Setelah minum air putih dan sedikt cemilan ringan. Bersiap.(Rgc-wisatariau)

Pekanbaru,(Global)
Kenikmatan menyantap Gulai Asam Pedas Ikan Patin adalah ketika disajikan hangat-hangat, pedas dan sedap membuat lidah bergoyang nendang. Pabila sepiring gulai Ikan Patin bersanding dengan Asam Pedas Ikan Patin sungguhlah nikmat. Gulai Ikan Patin yang berkuah kuning pekat dengan potongan-potongan besar Ikan Patin dan Asam Pedas Ikan Patin menawarkan penampilan dengan semburat merah yang menggoda.

Resep dan bahan-bahan untuk memasaknya pun mudah untuk didapatkan, dengan bentuk kuah berwarna agak kuning dan kental yang telah membuat selera makan semakin terbuka apalagi jika makanan ini disiapkan dengan sayur seperti pucuk daun ubi rebus dan lauk pauk lainnya sebagai pelengkap hidangan gulai ikan patin di atas meja makan.

Daging ikan patin yang lembut terasa dilidah disaluti dengan bumbu masakan yang meresap kedalam daging ikan. Gulai ikan patin ini akan lebih terasa nikmat rasanya ketika dipadukan dengan nasi putih yang akan mengenyangkan perut.

Gulai ikan patin akan lebih terasa segar dan beraroma lebih harum jika didalam gulai dimasukkan dengan bunga kecombrang yang berfungsi sebagai penyedap rasa gulai ikan patin.

Selain menu gulai ikan patin juga dapat kita rasakan pada menu masakan asam pedas ikan patin, yang kuahnya berwarna merah karena masakan ini bumbu utamanya adalah cabe kampung dan kandis , sehingga masakan ini sangat terasa pedas dan sangat terasa asamnya.

Oleh karena itu masakan ini disebut dengan gulai asam pedas. Rasa asam segar menyeruak ketika gigitan daging ikan yang empuk bertengger di lidah. Ditemani dua menu ini, tak terasa nasi sebakul pun habis.(Rgc-wisatariau)