Arrow

MENUJU RIAU 1//////////////////////////////

MENUJU RIAU 1//////////////////////////////


You are browsing with label: Showing posts with label Teknologi. Show all posts


Jakarta,(Global)
Jumat (20/7/2012) malam setelah Matahari tenggelam menjadi awal waktu memasuki bulan Ramadhan atau puasa. Selain hilal, malam pertama di bulan suci bagi umat Islam ini juga dihiasi oleh dua planet yang sudah sangat dikenal.

Planet pertama yang bisa dilihat dengan mata telanjang malam ini adalah Mars. Planet yang diduga menyimpan air dan kehidupan ini akan tampak kemerahan. Mars bisa dilihat dengan mengarahkan pandangan ke atas dan sedikit ke barat.

Siapa pun bisa melihat planet ini sesaat setelah Adzan Maghrib berkumandang. Mars akan tampak dengan magnitud 1,01. Magnitud menyatakan kecemerlangan benda langit. Semakin kecil hingga negatif, maka benda langit yang dimaksud akan semakin terang.

Planet lain yang akan terlihat adalah Saturnus. Planet yang memiliki struktur cincin yang khas ini bisa dilihat tak jauh dari Mars, hanya selisih beberapa derajat. Magnitud Saturnus adalah 1,28, cukup terang untuk bisa dilihat dengan mata telanjang. Saturnus bisa disaksikan pada waktu yang bersamaan dengan Mars.

Kedua planet tersebut bisa dilihat hingga sekitar pukul 23.00 WIB. Jadi, waktu menyaksikannya cukup panjang, masih bisa teramati setelah shalat tarawih pertama. Syarat tampaknya dua planet itu malam ini adalah malam yang cerah tanpa awan yang menghalangi. pengamatan di tempat yang gelap dan lapang akan lebih memuaskan.

Mengamati Mars dan Saturnus, satu hal yang bisa dipikirkan adalah soal adanya kehidupan di luar Bumi. Apakah memang ada kehidupan tersebut? Ilmuwan menyatakan bahwa Mars dan bulan yang mengelilingi Saturnus punya air atau atmosfer yang bisa mendukung kehidupan.

Selain dua planet tersebut, benda langit yang bisa disaksikan adalah Arcturus dan Vega. Arcturus adalah bintang paling terang di rasi Bootes, akan tampak dengan magnitud 0,15. Sementara Vega adalah bintang paling terang di rasi Lyra, akan tampak dengan magnitud.(Rgc-Kcm)

Hollywood,(Global)
Bila ada yang bertanya game petualangan bertema luar angkasa apa yang terbaik saat ini, jawabannya adalah Mass Effect.

Game yang bertema mengenai kehancuran galaksi akibat ancaman ras alien purba tersebut memiliki cerita yang tidak kalah dengan film action Hollywood. Itu sebabnya game ini akan diadaptasi menjadi film animasi (anime) untuk lebih mendalami ceritanya yang menarik.

Walaupun latar belakang dunianya sama, cerita yang diangkat dalam film ini berbeda dengan gamenya. Petualangan pada film ini adalah milik James Vega, prajurit militer yang dapat dimainkan di Mass Effect 3.

Gamer yang memainkan game ini pasti tahu bahwa masa lalu Vega masih dipenuhi misteri. Oleh karena itu, perusahaan pembuat game ini, BioWare dan Electronic Arts (EA) membuat animasi untuk menceritakan kisahnya.

Kabar mengenai film ini sebenarnya telah lama beredar, tepatnya sekitar 2011. Namun, informasi selanjutnya tidak terdengar sama sekali hingga pada Maret 2012 diumumkan James Vega menjadi tokoh utamanya.

Film yang diberi judul Mass Effect: Paragon Lost tersebut digarap oleh Funimation, perusahaan hiburan yang melisensi dan mendistribusikan film animasi Jepang (anime) di Amerika. Menurut rencana, film animasi ini akan dirilis pada November 2012.(Rgc-Kcm)

Washington,(Global)
Studi terbaru mengungkap bahwa air yang ada di Bumi berasal dari asteroid. Ini berbeda dengan pendapat sebelumnya yang menyatakan bahwa air berasal dari komet dari luar orbit Jupiter yang kemudian masuk ke bagian dalam Tata Surya.

Conel Alexander dari Carnegie Institution of Washington adalah peneliti yang melakukan studi itu. Ia menganalisis 86 sampel meteorit (asteroid yang jatuh ke Bumi) jenis carbonaceous chondrite, meteorit yang diduga sumber air di Bumi, kaya akan molekul hidrogen dan nitrogen.

Dalam riset, Alexander dan tim mengukur keberlimpahan isotop hidrogen, nitrogen, dan karbon pada sampel meteorit. Isotop adalah unsur yang punya jumlah netron dan nomor atom berbeda. Contoh, isotop deiterium atau hidrogen berat punya satu netron, tetapi hidrogen tak memiliki.

Keberlimpahan hidrogen dalam asteroid menunjukkan dari bagian mana asteroid tersebut berasal. Secara umum, asteroid atau benda langit yang berasal dari wilayah luar Tata Surya (setelah sabuk asteroid antara Maras dan Jupiter) memiliki konsentrasi deuterium yang tinggi.

Hasil penelitian menunjukkan, 86 sampel meteorit, berdasarkan kandungan deuterium-nya, berasal dari bagian dalam Tata Surya, kemungkinan wilayah sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter. Diketahui juga bahwa komet memiliki kandungan deuterium yang tinggi. Dengan demikian, sumber air di Bumi mungkin bukan komet.

Menurut peneliti, ada banyak jenis meteorit chondrite, sulit untuk dikatakan chondrite jenis manakah yang "mengirim" air ke Bumi. Ilmuwan menduga, air di Bumi tidak hanya berasal dari satu jenis chondrite, tetapi gabungan dari semua jenis. Hasil riset ini dipublikasikan di jurnal Science, Kamis (12/7) lalu.(Rgc-Kcm)

Jakarta,(Global)
Di antara sedikit peneliti ilmu fisika partikel di Tanah Air adalah Dr LT Handoko dari LIPI yang Senin (9/7/2012) lalu menulis di Harian Kompas tentang penemuan partikel subatomik oleh lembaga penelitian CERN (Conseil Europeen pour la Recherche Nucleaire/Pusat Riset Nuklir Eropa).

Semata berangkat dari temuan itu saja, terkesan betapa rumitnya topik fisika partikel yang membahas zarah kecil yang menyusun materi di alam semesta. Yang dibahas tak lagi pada dimensi atom, tetapi lebih kecil lagi.

Di masa silam, perihal atom jatuh sebagai wacana filosofis. Filsuf Yunani yang hidup di abad kelima SM sudah menyinggung bahwa materi disusun dari partikel komponen berukuran amat kecil. Teori pertama tentang atom dicetuskan filsuf Yunani lain, Leucippus. Dia menyebut bahwa semua hal terbentuk dari unsur tak bisa dibelah lagi yang disebut ”atom”, yang dalam bahasa Yunani diterjemahkan sebagai ’tak bisa dipotong’.

Karena itu, tatkala fisikawan dan kimiawan Inggris, John Dalton, menerbitkan teori atom dalam bukunya New System of Chemical Philosophy, sebenarnya ide dasarnya bukan baru. Yang membedakannya dengan apa yang dikemukakan oleh filsuf Yunani adalah bahwa apa yang dikemukakan Dalton didasarkan pada observasi dan pengukuran saksama, dan bukan atas debat filosofi (”The Big Idea”, National Geographic).

Partikel subatomik
Dari riset pendahulu seperti itulah, tahun 1920-an diketahui bahwa inti atom tersusun dari dua partikel, proton dan elektron. Tahun 1932, fisikawan James Chadwick menemukan neutron, partikel bermassa sama dengan proton, tetapi tidak memiliki muatan listrik. Semula dikira itulah semua partikel elementer, yakni proton, neutron, dan elektron.

Berikutnya, ilmuwan mengetahui bahwa elektron merupakan partikel fundamental, jadi tidak ada lagi penyusun lain. Akan tetapi, proton dan neutron terbuat dari partikel lebih kecil, yakni kuark. Ada enam tipe kuark, dan hanya dua yang terkait dengan proton dan neutron.

Selain itu, juga ada penemuan neutrino dari proses peluruhan. Ada pula penemuan positron (atau antielektron) oleh Carl Anderson tahun 1932. Partikel eksotik lain juga ditemukan dalam sinar kosmik, termasuk muon dan pion.

Satu hal yang dipahami adalah semua partikel subatomik di atas tak bersifat fundamental, dan para ahli fisika yang meneliti ini mencoba mengembangkan model standar antara tahun 1960 dan 1980. Akhirnya disimpulkan, ada dua kelas partikel elementer yang menyusun semua materi di alam semesta, yakni lepton (termasuk elektron, muon, dan neutrino) dan kuark (ada enam tipe dan bergabung dua, tiga untuk membentuk partikel lebih berat seperti proton, neutron, dan pion).

Lalu, menurut perilaku statistiknya, semua partikel di atas jatuh ke dalam dua kategori, fermion dan boson. Fermion (dari nama fisikawan Italia, Enrico Fermi) adalah kuark dan lepton yang membentuk materi, sedangkan boson (dari nama fisikawan India, Satyendra Nath Bose) seperti halnya foton dikaitkan dengan gaya. (Lihat, misalnya, The Story of Science–From Antiquity to the Present, RR Subramanyam dkk, 2010, untuk rincian.)

Akhir misteri
Keberadaan partikel Higgs—dari nama pencetusnya, fisikawan Inggris, Peter Higgs—sudah diramalkan pada tahun 1960-an. Ia, seperti dituturkan dalam infografis Reuters yang menyertai artikel Dr Handoko, penting untuk menjelaskan mengapa partikel lain memiliki massa, yang bila dirunut lebih jauh terkait dengan pembentukan alam semesta.

Ramalan menyebutkan adanya medan tak kasatmata—yang lalu disebut medan Higgs— yang menembus seluruh angkasa, dan bahwa sifat-sifat materi dan gaya yang mengatur seluruh eksistensi kita berasal dari interaksi mereka dengan medan Higgs yang gaib tadi. Kalau saja besar, atau sifat medan Higgs beda, sifat alam semesta pun akan berbeda dengan yang ada sekarang, dan boleh jadi kita juga tidak ada untuk mengagumi semua itu (tulis Krauss dalam Newsweek, 16/7).

Atas dasar inilah CERN memburu partikel ini dengan memanfaatkan fasilitas (Large Hadron Collider (LHC) dalam naungan Proyek ATLAS yang dimulai musim semi 2009.

Oleh misterinya, juga oleh kedudukannya yang dipandang sentral dalam penciptaan alam semesta, partikel Higgs ini lalu—dalam bahasa kolokial—sering disebut ”partikel Tuhan”, dan muncul dalam buku fisikawan Leon Lederman yang terbit tahun 1994.

Penemuan boson Higgs seperti membenarkan revolusi dalam pemahaman manusia tentang fisika fundamental dan membawa sains lebih dekat dengan zat supernatural di awal alam semesta, tambah Krauss.

Medan Higgs juga dipandang mendukung anggapan bahwa angkasa yang kosong sebenarnya mengandung benih-benih eksistensi kita. Dalam teori inflasi semesta yang dicetuskan oleh Alan Guth, ada medan serupa yang tercipta pada saat paling awal setelah Dentuman Besar yang menyebabkan semesta mengembang luar biasa cepat dalam sepertriliunan detik, di mana setelah itu energi yang ada dalam angkasa yang sepertinya hampa itu diubah menjadi seluruh materi dan radiasi yang kita saksikan sekarang ini.

Penemuan partikel Higgs di satu sisi menambah wawasan tentang fisika partikel, tetapi juga lebih jauh tentang kondisi awal alam semesta, dan lebih jauh lagi tentang penciptaan alam semesta itu sendiri.

Dalam Science Illustrated (7-8/12) dikemukakan ”10 Pertanyaan Sekitar Dentuman Besar”, di antaranya (nomor 4) ”apa yang menyusun semesta?”. Penemuan partikel Higgs membantu menjawab pertanyaan itu.

Fisika berutang kepada sosok seperti Richard Feynman, yang 60 tahun lalu mengembangkan teknik kalkulasi untuk meramalkan luaran eksperimen (Scientific American, 5/12), atau pada Satyendra Bose yang partikel boson-nya kini populer, tetapi sosok penemunya jarang disebut (Newsweek, 16/7).

Semua upaya itu selain untuk memahami fisika juga ditujukan untuk meningkatkan derajat insani, yang senantiasa haus untuk mengetahui segala ihwal yang terkait dengan eksistensi dirinya. Dalam konteks ini bisa dipertanyakan, sejauh mana kontribusi ilmuwan Indonesia?.(Rgc-Kcm)

Nottingham,(Gobal)
Secara umum, makhluk hidup mungkin takkan bertahan lama di lingkungan mikrogravitasi dan penuh radiasi di antariksa. Tapi, tak demikian halnya dengan cacing spesies Caenorhabditis elegans. Cacing mikro tersebut justru awet muda di antariksa.

Fakta tersebut terkuak dari hasil riset peneliti University of Nottingham yang telah mengirim cacing C. elegans lewat misi antariksa selama bertahun-tahun. Cacing yang dikirim lewat misi pesawat ulang alik kemudian dibawa lagi ke Bumi untuk dibandingkan dengan cacing sejenis yang ada di Bumi.

Tim peneliti menemukan, otot cacing C. elegans yang dibawa ke antariksa memiliki akumulasi agregrat polyglumatin yang lebih sedikit. Senyawa tersebut merupakan sejenis protein yang biasanya terakumulasi seiring cacing tersebut menua. Dengan sedikitnya senyawa ini, bisa dikatakan cacuing ini lebih awet muda di antariksa.

Peneliti juga menemukan adanya 5 gen yang inaktif pada cacing yang dikirim ke antariksa. Gen tersebut berperan dalam pengiriman sinyal di sistem saraf dan metabolisme. Ada juga satu gen yang berperan seperti insulin pada manusia.

"Tampaknya lima gen ini terlibat dalam proses bagaimana cacing merasakan perubahan lingkungan dan penrubahan sinyal dalam metabolisme dengan tujuan beradaptasi," ungkap Nathaniel Szewczyk, peneliti University of Nottingham.

"Sebagian besar dari kita tahu bahwa otot menyusut di antariksa. Hasil studi ini menunjukkan dengan hampir pasti bahwa respon tersebut lebih merupakan bentuk adaptasi daripada patologi," jelas Szewczyk seperti dikutip BBC, Jumat (6/7/2012).

C. elegans telah lama menjadi objek studi terkait kemungkinan hidup di antariksa. Cacing ini merupakan organisme multiseluler pertama yang diurutkan genomnya. C. elegans diketahui memiliki 20.000 gen dan 2000 diantaranya bertanggung jawab dalam fungsi otot.

Hasil riset ini dipublikasikan di jurnal Scientific Report, Kamis (5/7/2012). Studi sebelumnya mengungkap bahwa C. elegans bisa bertahan hidup di antariksa bahkan bisa bereproduksi hingga 12 generasi setelah jangka waktu 3 bulan.(Rgc-Kcm)


Jakarta,(Global)
Indonesia patut berbangga. fisikawan asal Indonesia ternyata juga terlibat dalam perburuan Higgs Boson atau Partikel Tuhan dalam eksperimen Large Hadron Collider (LHC) Organisasi Eropa untuk Penelitian Nuklir (CERN).

Fisikawan Indonesia yang terlibat program itu adalah Suharyo Sumowidagdo. Ia merupakan lulusan program sarjana dan master dari jurusan Fisika Universitas Indonesia serta menamatkan doktoral di Florida State University pada tahun 2008.

Perburuan Partikel Tuhan di CERN dilakukan lewat dua eksperimen, yaitu Compact Muon Solenoid (CMS) dan A Toroidal LHC Apparatus (ATLAS). Masing-masing bekerja secara independen, bertujuan mencapai kesempurnaan penelitian.

"Saya menjadi anggota kolaborasi eksperimen CMS setelah menyelesaikan PhD fisika partikel eksperimen di kolaborasi eksperimen D0 di Amerika Serikat, tepatnya tahun 2008," jelas Haryo saat dihubungi lewat email, Kamis (5/7/2012).

Haryo dan rekannya bertanggung jawab untuk pengoperasian dan pemeliharaan detektor muon (salah satu partikel penyusun materi). Selain itu, Haryo juga berperan mengambil data di ruang kontrol.

Secara spesifik, Haryo ikut serta dalam pembuatan software sistem kendali bagi detektor muon. Detektor berada 100 meter di bawah tanah sehingga pendendalian harus dilakukan lewat jarak jauh dengan sistem kendali.

Haryo sebelumnya menekuni fisika partikel teoretik. Ia melakukan riset untuk studi sarjana di bawah bimbingan Professor Terry Mart di Universitas Indonesia dan lulus dari program itu tahun 1999.
Namun, setelah menempuh doktoral, ia beralih ke fisika partikel eksperimental. Topik disertasinya tentang top quark yang meluruh menjadi tau lepton. Hal tersebut sudah diprediksi sebelumnya, tapi belum dibuktikan.
Setelah PhD, Haryo menjadi peneliti postdoktoral di University of California Riverside. Di CMS, ia meneliti tentang massa top quark. Penelitian itu berguna untuk memprediksi massa Higgs Boson.
Secara mengejutkan, Haryo mengatakan, "Adalah sebuah artikel di Kompas tanggal 30 April 1994 dan beberapa artikel sambungannya tahun 1994-1995 yang menginspirasi saya untuk menjadi seorang fisikawan partikel eksperimen."

Artikel tersebut memuat keterlibatan ilmuwan Indonesia, Stephen van den Brink, dalam tim riset Universitas Chicago dan Universitas Pittsburgh untuk menemukan bukti kuat adanya top quark di Laboratorium Akselerator Nasional Fermi.

Menurut Haryo, berbeda dengan fisikawan partikel teori yang membuat formulasi teori baru atau perhitungan matematis rumit, fisikawan partikel eksperimental mencari keberadaan partikel dari sebuah teori atau mengukur sifat partikel.

Haryo merasa bahwa fisika partikel eksperimental punya tantangan tersendiri. Dan, dari banting setirnya itu Haryo pun punya kesempatan untuk bergabung dalam misi besar CERN mencari keberadaan Higgs Boson.

Fisika Partikel di Indonesia
Fisika partikel di Indonesia bukannya tidak berkembang. Haryo mengatakan, "Sudah banyak orang Indonesia yang menekuni fisika partikel teori, namun sangat sedikit yang menekuni fisika partikel eksperimen."

Menurutnya, kapasita Indonesia di bidang fisika partikel harus terus dibangun. "Tidak perlu seperti dengan membuat akselerator seperti LHC, namun cukup dengan meningkatkan keterlibatan perguruan tinggi dan institusi penelitia di Indonesia."

Minggu lalu (26-28 Juni 2012), perwakilan dari CERN telah datang ke Universitas Indonesia. Salah satu tujuannya adalah meningkatkan kerja sama antara CERN dan Indonesia.

Fisika partikel, terutama bagi Indonesia yang masih berkutat dengan pembangunan ekonomi, kadang dianggap tidak aplikatif. Menurut Haryo, pandangan tersebut sebenarnya tidak tepat.

"Mengatakan fisika partikel tidak aplikatif bagi saya adalah seperti tidak perlu meneliti tentang listrik magnet yang diperlukan untuk menciptakan bohlam listrik karena kita cukup menggunakan lilin saja untuk penerangan!" tegasnya.

Riset listrik magnet pada abad 17 dan 18 bisa dikatakan sama seperti penelitian fisika partikel eksperimen saat ini. Tidak seorang pun tahu apa kegunaan mempelajari listrik statis dari menggesek-gesek kain wol atau batu ambar. Tapi, pada akhirnya riset berguna.

Dalam kenyataannya, riset fisika partikel di CERN secara tidak langsung memberi sumbangsih pada perkembangan teknologi. Contoh nyatanya adalah aplikasi pada kedokteran dan teknologi informasi.

"Teknologi yang diperlukan untuk membangun detektor dan akselerator fisika partikel, ternyata memiliki aplikasi praktis untuk kehidupan sehari-hari. Keberadaan alat pencitraan medis yang murah di rumah sakit dimungkinkan karena teknologi kabel listrik superkonduktor yang digunakan di akselerator Fermilab dan Tevatron," jelas Haryo.

"Teknologi internet (WWW) diciptakan di CERN tahun 1989 untuk membantu komunikasi ilmiah antar fisikawan, dan saat ini teknologi komputasi grid dan global digunakan eksperimen CERN untuk mengolah data," tambahnya.(Rgc-kcm)

Wahsington,(Global)
Video dari Organisasi Eropa untuk Penelitian Nuklir (CERN) beredar di internet. Video itu diduga bocoran hasil riset tentang "Partikel Tuhan" yang akan diumumkan pada Rabu (4/7/2012) ini pukul 14.00 WIB. "Kami telah mengobservasi adanya partikel baru," kata juru bicara CERN, Joe Incandela, dalam video yang pertama kali beredar di situs Science News itu. "Kami memiliki bukti cukup kuat bahwa memang ada sesuatu di sana. Untuk memastikan karakteristiknya, kami masih membutuhkan waktu," lanjut Incandela.
Incandela tampak begitu yakin dalam video tersebut. Ia mengungkapkan bahwa apa yang diungkapkannya adalah sesuatu yang penting dan signifikan dalam sains, terutama terkait soal pencarian partikel Tuhan.

"Di sisi lain kami menemukan peluruhan dua foton, misalnya, yang menunjukkan pada kita bahwa itu adalah boson, partikel dengan putaran integer," ungkap Incandela. "Dan kami tahu bahwa massanya sekitar 100 kali proton. Ini adalah partikel paling masif yang eksis," tambahnya.
Dalam video tersebut, Incandela sempat mengucapkan kata "salah satu temuan terbesar" sebelum mengoreksinya menjadi "atau observasi tentang fenomena dalam bidang kami selama 30 hingga 40 tahun terakhir."

Peter Woit, pengajar Matematika di Columbia University di New York, mengungkapkan bahwa ada beberapa kata yang membuat video itu terlihat sangat terkait dengan temuan baru.

"Cermati bahwa kata yang digunakan di situ adalah 'observasi' dan bukan 'penemuan'," kata Woit seperti dikutip AFP, Rabu ini.

Observasi berarti bukti dengan standar lemah. CERN diduga sengaja menggunakan kata ini dalam video, atau memang akan menggunakan kata tersebut dalam penemuan.

Seperti diberitakan sebelumnya, lab lain yang juga meneliti tentang Partikel Tuhan, Fermilab di Illinois, mengungkapkan bahwa hasil temuannya belum cukup dikatakan sebagai "discovery", baru bisa dikatakan "bukti". CERN mungkin mendapatkan hasil serupa.

Partikel Tuhan sejatinya adalah Higgs Boson, partikel yang dibutuhkan untuk melengkapi model standar fisika.

Teori tentang Higgs Boson diajukan pada tahun 1960 oleh Peter Higgs untuk menerangkan mengapa partikel tertentu memiliki massa, sementara yang lain, seperti cahaya, tidak.

Menurut Higgs, semesta memiliki medan yang disebut Medan Higgs, serupa medan magnet. Setiap partikel "merasakan" medan ini, tetapi dengan derajat yang berbeda satu sama lain.

Jika partikel bisa melewati medan tanpa interaksi, maka partikel itu memiliki massa rendah atau hampir nol. Sebaliknya, jika berinteraksi, maka akan punya massa lebih tinggi.

Ide Higgs membutuhkan eksistensi dari partikel Higgs Boson. Karenanya, pencarian terus dilakukan.

Jika medan Higgs tidak ada, berdasarkan teori, semesta akan menjadi tempat yang sangat berbeda. Atom sulit terbentuk. Ikatan kimia juga akhirnya tak dapat terbentuk. Akhirnya mungkin takkan ada planet, galaksi, dan bintang.

Tentang video yang beredar, pihak CERN menanggapi bahwa video tersebut hanya sebagian dari apa yang akan diungkapkan dalam pertemuan hari ini. Apa bagian lainnya? Masih harus ditunggu.
Jika pertemuan hari ini mengonfirmasi keberadaan Higgs boson, maka penemuannya akan menjadi salah satu yang terbesar dalam abad ini.

Jakarta.(Global)
Sebanyak 25 spesies ikan karang baru termuat dalam buku Reef Fishes of the East Indies yang ditulis oleh peneliti biologi kelautan, Gerald R Allen dan Mark V Erdmann. Di antara 25 spesies tersebut, salah satunya adalah fairy basslet jenis Pseudanthias mica yang berasal dari lautan Indonesia.Jenis ikan tersebut merupakan favorit dari Erdmann yang merupakan peneliti dari Conservation International. Nama "mica" pada spesies itu diambil dari nama putri Erdmann sendiri.

"Fairy basslet, meskipun memiliki kekerabatan dekat dengan grouper, adalah pemakan plankton yang biasanya dijumpai dalam group berjumlah puluhan atau ratusan, dan jantannya memiliki warna pastel yang terang," kata erdmann seperti dikutip National Geographic, Kamis (28/6/2012).

Pseudanthias mica  adalah sebagian kecil dari upaya selama 60 tahun lebih untuk mendata spesies yang ada di perairan Indonesia dan sekitarnya. Dalam buku Reef Fishes of the East Indies, termuat kurang lebih 2500 jenis.

Upaya pendataan itu bukannya tanpa tujuan. Dengan mendata keragaman karang di wilayah Segitiga Terumbu Karang, Laut Cina Selatan dan Laut Andaman, Erdman berharap pemerintah mem[rioritaskan area tersebut sebagai wilayah konservasi.

"Ketika kami berbicara pada komunotas, kami sering menjelaskan bahwa area ini adalah pabrik spesies, dan mencatat perlunya menjaga pabrik untuk terus berjalan," ungkap Erdmann.

Selain Pseudanthias mica, ikan spesies baru lainnya yang juga ditemukan di Indonesia adalah jenis clingfish Aspasmichthys alorensis. Jenis ini ditemukan di wilayah Alor.(Rgc-Kcm)

Jakarta,(Global)
Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, ilmuwan Indonesia yang kini berkarya di Jepang, mengembangkan pesawat tanpa awak (unmanned aerial vehicle/UAV) berbadan besar bernama Josaphat Laboratory Large Scale Experimental Unmanned Aerial Vehicle (JX-1).

"JX-1 sementara ini terbesar di Jepang, dan mungkin di Asia," ungkap Josaphat dalam wawancara lewat e-mail dengan Kompas.com, Sabtu (16/6/2012).

JX-1 dibuat untuk melakukan pengujian perangkat gelombang mikro dan kamera untuk penginderaan jarak jauh yang selama ini juga dikembangkan di laboratorium miliknya, Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL), di Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University, Jepang.

JX-1 dikembangkan sejak lima tahun lalu. Salah satu pertimbangannya adalah efektivitas biaya. Jika meminjam UAV untuk pengujian, prosedurnya cukup rumit dan memakan biaya besar.

"Misalnya pernah saya akan instal radar dan ditawari biaya senilai sama untuk membuat UAV berbadan besar lebih dari lima unit. Kalau punya UAV sendiri, bisa setiap saat menerbangkan sendiri dan tidak perlu khawatir untuk mengoperasikannya di daerah-daerah berbahaya," urai Josaphat.

Lebih besar, lebih mumpuni

JX-1 memiliki beberapa kelebihan dibanding pesawat tanpa awak lain di Jepang saat ini, utamanya dalam hal ukurannya.

"Angkatan bersenjata Jepang pun hanya mempunyai UAV originalnya dengan rentang sayap terbesar adalah 3 m, sedangkan JX-1 adalah 6 m dan dapat ber-payload sensor-sensor sekitar lebih dari 30 kg," tambah Josaphat.

Pesawat tanpa awak berbadan besar diperlukan untuk mengakomodasi perangkat dengan beragam frekuensi serta mendukung proyek Josaphat selanjutnya.

Josaphat menjelaskan, teknologi Synthetic Aperture Radar (SAR) di Jepang saat ini bekerja pada frekuensi L band dengan polarisasi linear. Sementara Josaphat sendiri mengembangkan SAR yang berbasis polarisasi sirkuler sebagai sensor SAR baru di dunia.

Supaya dapat dibandingkan dengan sensor sebelumnya, Josaphat tetap mengembangkan pada frekuensi yang sama. Sementara L band memiliki panjang gelombang yang cukup panjang sehingga dibutuhkan antena berukuran lebih besar.

"Agar dapat mengakomodasi perangkat pada frekuensi rendah ini hingga tinggi (sekitar 50 GHz), maka UAV ini dirancang mempunyai ruang besar sejak awal," papar Josaphat.

JX-1 juga dipersiapkan untuk mendukung penelitian berikutnya. Saat ini sedang dipersiapkan radar yang akan bekerja pada frekuensi P, S, C, X, dan Ku band. Ruang yang besar dibutuhkan untuk mengakomodasi payload misi secara bersamaan.

"Memang saat ini ada UAV kecil-kecil, tapi mempunyai keterbatasan fungsi dalam misi, termasuk flight endurance," kata Josaphat.

Selain soal ukuran, JX-1 memiliki kelebihan sebab dirancang tembus gelombang mikro dengan dielectric constant sekitar 1,5 atau material badan pesawat berkarakteristik mendekati udara. Dengan demikian, radar bisa disimpan di dalam badan pesawat sehingga lebih terlindungi dan pancaran gelombang dapat menembusnya.

Tulang punggung riset penginderaan jauh

JX-1 berhasil diterbangkan perdana pada 7 Juni 2012 lalu di Fujikawa Airfield. Setelah penerbangan perdana ini, JX-1 bakal siap mendukung beragam misi pengujian serta misi lanjutan berikutnya.

Saat ini, laboratorium Josaphat tengah mengembangkan Circularly Polarized Synthetic Aperture Radar (CP-SAR) sebagai SAR aktif sensor, GPS-SAR sebagai SAR pasif sensor, GPS-Radio Occultation (RO), dan Linear Polarized Synthetic Aperture Radar (LP-SAR).

JX-1 nantinya akan dimanfaatkan untuk menguji coba sensor tersebut. Setelah uji coba, sensor akan diaplikasikan pada mikrosatelit yang juga dikembangkan oleh Josaphat dan tim, bernama GAIA-I dan GAIA-II.

Josaphat menjelaskan, kedua mikrosatelit yang dikembangkan bertujuan untuk mengamati pergerakan kerak bumi sehingga membantu memprediksi gempa dan tsunami 3-5 hari sebelum kejadian. GAIA-I akan mengamati dalam resolusi lebih besar, sementara GAIA-II dalam citra yang lebih detail.

Di Jepang, teknologi yang dikembangkan Josaphat digadang mampu menjadi tulang punggung dalam riset penginderaan jauh. Nantinya, penginderaan jauh tak hanya mengandalkan radar dan satelit, tetapi juga didukung pesawat tanpa awak.

Saat ini, kata Josaphat, Malaysia dan Jepang sudah bekerja sama lewat program transfer teknologi untuk mengamati Semenanjung Malaysia. Josaphat berharap, Indonesia pun ke depan juga berminat mengaplikasikan teknologi yang dikembangkannya.(Rgc-kcm)

Sydney,(Global)
Ilmuwan menemukan bahwa nyamuk Culex molestus punya perilaku aneh.

Jika sebagian besar nyamuk mengisap darah secara terus menerus pada saat lapar, tak demikian halnya dengan nyamuk ini. Culex molestus akan berdiet alias tak menghisap darah sebelum berhasil meletakkan telur.

Fakta ini ditemukan lewat penelitian panjang selama 2 tahun. Jenis nyamuk Culex molestus memiliki habitat di pipa pembuangan dan septic tanks.

Cameron Webb dari University of Sydney Medical mengatakan, "Terobosan dalam studi ini adalah bahwa jika nyamuk ditawari darah, nyamuk itu takkan mengisapnya sebelum telurnya berhasil diletakkan. Kami percaya, nyamuk ini adalah satu-satunya spesies di Australia yang memiliki perilaku ini."

"Begitu telur pertama diletakkan, maka nyamuk langsung akan berburu darah," tambah Webb seperti dikutip Zee News, Kamis (21/6/2012).

Menurut Webb, sebelum meletakkan telur, nyamuk mendapatkan energi dari nutrisi yang dikumpulkan sebelum fase dewasa. Perilaku ini dikenal dengan autogeni.

Hasil penelitian Webb dipublikasikan di Journal of Vector Ecology.

Webb mengungkapkan, salah satu yang bisa diambil dari penelitian ini ialah manusia harus berpikir lagi saat akan mendesain tempat penyimpanan air, limbah dan sebagainya. Desain harus dipertimbangkan sehingga tidak menciptakan peluang baru bagi nyamuk untuk berkembang.(Rgc-Kcm)

Pekanbaru,(Global)
Seekor gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) ditemukan mati di Desa Petani Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, Rabu (20/6/2012). "Bangkai gajah itu ditemukan di hutan di sekitar Desa Petani," kata warga sekitar lokasi penemuan, Agung Marsudi.

Ia mengatakan, kondisi tubuh satwa bongsor itu sudah menjadi bangkai. Lokasi penemuan gajah berjarak sekitar 18 kilometer dari Kota Duri, Ibukota Kecamatan Mandau, Bengkalis. Penyebab kematian hewan tersebut belum bisa dipastikan, namun kemungkinan besar gajah itu berkelamin jantan dengan usia lebih dari 40 tahun dan berat 6 ton. Saat ditemukan, gading gajah sudah hilang. Ia mengatakan kemungkinan besar sudah mati lebih dari sehari karena baunya sudah busuk.

"Warga sudah melaporkan penemuan gajah mati ini ke petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam," katanya.
 
Agung mengatakan, kejadian langka dijumpai saat menemukan bangkai gajah tersebut. Gajah yang mati seperti dikawal kawanan gajah lainnya yang masih hidup.

"Ada dua gajah lainnya yang seperti mengawal temannya yang sudah mati, mungkin mereka dari kawanan yang sama," ungkap Agung. "Bahkan, seekor gajah itu menyepak gajah yang sudah terbaring mati dengan kakinya seperti ingin membangunkannya," tambahnya.

Akibat adanya dua gajah yang mengawal, warga tak berani mendekat. Petugas BKSDA yang datang juga menjaga jarak. Dengan temuan ini, jumlah gajah Sumatera yang mati sejak januari hingga Juni 2012 sudah ada 13 ekor.

Gajah yang mati kali ini diduga merupakan bagian dari kelompok gajah Sumatera liar di Suaka Margasatwa Balai Raja. Kawasan konservasi itu kini makin gundul akibat perubahan fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit dan permukiman, menjadi salah satu daerah konflik gajah dan manusia.(Rgc-kcm)

Barcelona,(Global)
Spesies baru Crustacea ditemukan di gunung bawah laut wilayah laut utara Spanyol. Crustacea ini ditemukan di laut dengan kedalaman 1.410 meter pada bulan Agustus 2011 oleh tim peneliti INDEMNARES.

Spesies Crustacea yang ditemukan adalah lobster berwarna oranye yang berukuran sekitar 2 cm. Jenis lobster ini banyak ditemukan di wilayah gunung bawah laut, daerah koral yang belum banyak tereksploitasi oleh perikanan.

Lobster yang punya nama ilmiah Uroptychus cartesi ini dijuluki lobster pemalu. Dinamai demikian sebab hidup di wilayah koral yang dalam yang belum banyak dijangkau oleh aktivitas perikanan, cenderung melimpah di wilayah gunung laut.

Secara taksonomis, spesies ini lebih dekat kekeluargaannya dengan kelomang (hermit crab) daripada dengan lobster sebenarnya. Lobster ini cenderung pendiam dan tak bermigrasi jauh. Larva lobster ini hanya mengalami periode plantonik (berenang bebas) selama beberapa hari.

Enrique Macpherson, peneliti dari Centre for Advanced Studies of Blanes di Spanyol, mengatakan, lobster pemalu yang ditemukan memiliki kekerabatan terdekat dengan lobster yang ditemukan di Laut Karibia.

"Kedua spesies memiliki nenek moyang yang sama, yang menginvasi wilayah Atlantik dari Pasifik dan Hindia beberapa juta tahun yang lalu," ungkap Macpherson seperti dikutip Livescience, Jumat (15/6/2012).

Uroptychus cartesi memiliki kekhasan karena bentuk dan jumlah tonjolan serupa duri di cangkangnya. Jenis ini dinamai berdasarkan nama Joan Cartes, ilmuwan Institute of Marine Science di Barcelona yang pertama kali menemukan.

Saat ini, enam spesimen yang dikumpulkan untuk identifikasi disimpan di National Museum of Natural History di Paris. Penemuan ini dipublikasikan di jurnal Zootaxa baru-baru ini.(Rgc-Kcm)
 
Jakarta,(Global)
Ibadah haji memang mulia dan diwajibkan bagi pemeluk agama Islam. Namun, di sisi ibadah haji juga menyumbang emisi gas rumah kaca.

Hal tersebut terungkap dalam acara peluncuran Buku Petunjuk Haji Ramah Lingkungan, terjemahan dari buku berbahasa Inggris The Green Guide for Hajj and Islam and Water karya Dr. Husna Ahmad OBE, pakar lingkungan dari London University.

Buku versi Bahasa Indonesia diterbitkan atas kerja sama Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Nasional dan Alliance of Religion and Conservation (ARC). Buku diluncurkan di kampus Universitas Nasional, Jakarta, pada Kamis (14/6/2012).

Dalam diskusi, Armi Susandi dari Dewan Nasional Perubahan Iklim mengatakan, "Paling tidak emisi dari transportasi. Jumlah emisi yang dihasilkan mencapai 2.800 ton untuk sekali musim perjalanan haji. Itu minimum." Armi mengatakan bahwa emisi gas rumah kaca akibat perjalanan memang tidak bisa dielakkan. Namun, emisi yang dihasilkan bisa dikompensasikan.

"Sebenarnya ada carbon tax. Tapi sekarang kita bisa memulai dan kita koordinir sendiri. Haji membayar carbon footprint. Ini bisa digunakan untuk mengurangi kegiatan yang bisa mengurangi emisi, seperti pembangunan pembangkit tenaga listrik, hutan, dan lainnya," papar Armi. Dengan cara tersebut, jamaah haji akan membayar lebih mahal. Namun, kata Armi, ibadah haji nantinya tidak cuma berfungsi secara keagamaan, tapi juga lingkungan.

Dalam kesempatan yang sama, Hayu Prabowo dari Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengungkapkan bahwa upaya melaksanakan haji yang lebih "hijau" akan menyempurnakan ibadah haji itu sendiri. Hayu mengungkapkan, selama ini ibadah haji dinilai belum cukup hijau karena juga menghasilkan sampah dalam jumlah besar.

"Sampah yang dihasilkan bisa sebanyak 1,5 kg per orang per hari, 4.500 ton per hari saat ibadah haji tahun 1426 H. Belum lagi limbah-limbah dari hewan kurban," kata Hayu. Menurut Hayu, jumlah sampah ini bisa diminimalkan.(Rgc-Kcm)

Pekanbaru,(Global)
Kematian seekor gajah sumatera jantan di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, pada 31 Mei, disebabkan racun pestisida, zinc phosphide.

"Penyebab kematian gajah di Tesso Nilo adalah karena keracunan," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Bambang Dahono Adji, kepada ANTARA di Pekanbaru, Kamis (14/6/2012).

Hasil otopsi yang dilakukan Laboratorium Balitvet, Bogor, menunjukkan kadar zinc phosphide yang tinggi di lambung gajah itu.

Ia mengatakan, ada dua kemungkinan motif utama pembunuhan gajah itu, yakni konflik dengan manusia atau akibat perburuan gading.

"Kasus ini masih diselidiki oleh pihak kami dan berkoordinasi dengan kepolisian dan WWF," kata Bambang.

Menurut dia, selama Januari hingga awal Juni ada tujuh gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang ditemukan mati di area Tesso Nilo yang merupakan habitat satwa dilindungi tersebut.

"Gajah yang mati tersebut enam adalah jantan dan satu ekor lagi adalah betina. Semuanya kemungkinan besar mati karena racun," terang Bambang.(Rgc-kcm)

Beijing,(Global)
Tembok Besar China ternyata jauh lebih panjang dari yang diperkirakan sebelumnya. Hal ini terungkap dari hasil survei Badan Urusan Kepurbakalaan China (SACH) sejak tahun 2007 di 15 provinsi di China.

Panjang Tembok Besar China sebelumnya pada tahun 2009 diperkirakan 8.850 km. Dalam penelitian terbaru, panjang bangunan bersejarah ini ternyata 21.196,18 km. Dengan demikian, panjang Tembok Besar China ternyata lebih dari dua kali lipat dibanding perkiraan sebelumnya.

Tongko Mingkan, Kepala Deputi SACH, mengatakan, untuk mengukur panjang Tembok Besar, sejumlah 43.721 situs purbakala diidentifikasi. Sejumlah tembok, reruntuhan, bagian pertahanan, celah sempit, dan bagian Tembok Besar lain diteliti.

Bangunan yang ditetapkan sebagai World Heritage sejak 1987 ini dikenal dengan "Tembok Panjang 10.000 Li". Tembok Besar adalah bangunan besar pertama yang dibangun manusia, terbuat dari batu, batu bata, dan bahan lain. Konstruksi Tembok Besar dimulai pada abad ke-7 SM.

Bangunan yang juga berfungsi untuk pertahanan tersebut kali pertama digunakan oleh Kaisar Qin Shi Huang pada tahun 220 SM untuk melindungi China dari serangan kalangan perampok dari wilayah utara.

Setelah masa tersebut, beberapa dinasti terus mempertahankan dan merenovasi Tembok Besar. Mayoritas dari struktur yang masih kokoh saat ini adalah yang dibangun kembali pada masa Dinasti Ming pada tahun 1364-1644.

Saat ini, dari seluruh bangunan hasil rekonstruksi Dinasti Ming, hanya 8,2 persen yang masih utuh. Sisanya dalam kondisi memprihatinkan. Banyak bagian telah runtuh, rusak, oleh aktivitas manusia dan pariwisata.

Seperti diberitakan Discovery, Kamis (7/6/2012), SACH akan merumuskan panduan untuk perlindungan Tembok Besar serta menyusun sistem pengawasan sehingga upaya pelestarian bangunan bersejarah ini akan berjalan.(Rgc-kcm)

Jakarta,(Global)
Fenomena langka Transit Venus yang terjadi Rabu (6/6/2012) lalu, rupanya menarik minat berbagai kalangan masyarakat.

Pada saat pengamatan, sekitar 300 orang datang memadati Planetarium Jakarta. Ada yang pelajar, ibu, anak-anak, dan pegawai negeri sipil.

Seorang pegawai negeri sipil dari Kementerian Kelautan mengungkapkan bahwa ia memang menyempatkan diri untuk melihat. "Iya, saya memang sengaja bolos biar bisa lihat ini. Kalau kerja bisa nanti, ini masih nunggu 100 tahun lagi," katanya.

Tak cuma PNS yang membolos, seorang ibu pun sengaja mengajak anaknya untuk melihat fenomena sekali seumur hidup. Alasannya hampir sama.

"Kalau belajar di sekolah kan bisa nanti-nanti ya. Ini kan di sini juga belajar. Kita harus nunggu lama untuk ini," kata Irna Fitrianti, salah seorang ibu yang membawa anaknya ke Planetarium Jakarta.

Transit Venus terjadi dalam periode 8, 105,5, 8, dan 121,5 tahun. Setelah tahun ini, Transit Venus baru akan terjadi lagi pada 11 Desember 2117. Jadi, sangat pantas jika fenomena ini dirayakan.(Rgc-kcm)
Manusia ternyata sudah "lapar" belajar sejak kecil. Studi terbaru mengungkapkan bahwa bayi manusia selalu berupaya mempelajari hal-hal di sekelilingnya, dari yang sangat sederhana hingga sangat kompleks.

Hasil studi tim peneliti yang diterbitkan di jurnal PLoS ONE 23 Mei 2012 lalu menyatakan bahwa hal ini disebut "Goldilocks Effect".

"Bayi-bayi mencari tipe material yang paling efisien di sekelilingnya, bagi mereka, untuk dipelajari," kata Celeste Kidd, peneliti kognitif di University of Rochester yang melakukan penelitian.

Kidd dan rekannya meneliti pola ketertarikan 72 bayi berusia 7 dan 8 bulan. Peneliti menggunakan perangkat eye-tracking untuk membantu melihat obyek yang diperhatikan bayi.


Dalam penelitian, bayi diberi tontonan film animasi. Berdasarkan hasil riset, bayi kehilangan ketertarikan saat obyek di layar terlihat terlalu monoton. Begitu juga jika obyek terlalu mengejutkan dan random.

Kidd mengungkapkan, bayi mencari informasi dari sekelilingnya secara lebih aktif dari yang diduga sebelumnya.

Menurut Kidd, hal tersebut berarti bahwa bayi tak membutuhkan permainan mahal untuk belajar. Lingkungan yang memberi stimulasi menyediakan peluang belajar yang tinggi.

"Setiap orangtua ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Tapi anak-anak bermain dengan apa saja yang ada di hadapannya. Mereka melakukan yang terbaik dengannya," urai Kidd seperti dikutip New York Times, Senin (28/5/2012).(Rgc-Kcm)
 
Jakarta,(Global)
Finnet Indonesia, anak usaha Telkom, menghadirkan layanan dompet elektronik bernama Tep-aja. Layanan itu akan muncul dalam berbagai bentuk, termasuk stiker.

"E-money ini akan memudahkan dalam bertansaksi. Tidak perlu uang fisik," kata Presiden Direktur PT Finnet Indonesia Walden R Bakara selepas peluncuran kartu Tep-aja di Menara Bidakara, Jakarta, Kamis (31/5/2012).

Kartu Tep-aja akan dibuat dalam beberapa jenis media, mulai dari kartu, stiker, hingga micro SD. Bahkan, Tep-aja juga akan muncul dalam bentuk aplikasi untuk ponsel dengan teknologi Near Field Communication (NFC).

Yang tidak memiliki ponsel berteknologi NFC bisa menggunakan stiker yang ditempelkan di badan ponsel atau micro SD Tep-aja.

"Sekarang baru muncul dalam versi kartu dulu. Dalam enam bulan ke depan, Tep-aja akan muncul dalam stiker, micro SD, hingga di ponsel berteknologi NFC," lanjut Vice President OTC Merchant Division Head PT Finnet Indonesia Ruby Hendrarto Wijoseno.

Proses transaksi kartu Tep-aja dapat dilakukan dengan cara men-tap-kan (menempelkan) kartu dengan mesin pembaca kartu di setiap merchant.

Ke depan, Tep-aja bisa digunakan untuk bertransaksi di warung-warung, toko kelontong, bus, kereta api, taksi, tol, retail minimarket, tempat hiburan dan wisata, restoran, dan lain-lain.

Kartu pribadi dan kartu komunitas
Sampai saat ini, kartu Tep-aja baru mendapat tambahan pengguna dari Komite Olahraga Nasional Indonesia sebanyak 1 juta orang. Ini merupakan kartu Tep-aja tipe komunitas.

Kartu tipe ini dibuat agak berbeda karena langsung berisi data profil pengguna dan bisa langsung berfungsi sebagai kartu tanda anggota.

"Saat ini, kami juga sedang negosiasi dengan salah satu perusahaan taksi nasional dan kopaja untuk mau menggunakan alat pembayaran elektronik ini," kata Hendarto.

Untuk tahap awal, kartu ini ditargetkan digunakan oleh 150.000 orang hingga akhir tahun. Dalam dua hari peluncuran, kartu ini telah digunakan 1.000 orang.

Kartu ini dapat diisi saldo maksimal Rp 1 juta. Adapun kartu komunitas dapat diisi saldo maksimal Rp 5 juta.(Rgc-Kcm)

Jakarta,(Global)
Djarum Black Innovation Awards 2012 memasuki tahap seleksi 50 besar. Penjurian untuk mendapatkan 50 produk terbaik dilakukan Rabu (30/5/2012) hari ini di Hotel Grand Kemang, Jakarta.
Salah satu anggota dewan juri, Yoris Sebastian, mengatakan bahwa secara umum karya para peserta lebih baik dari tahun sebelumnya.

"Kualitas top 50 pada tahun ini lebih berkualitas dari top 50 pada tahun lalu," kata Yoris saat ditemui Kompas.com di sela-sela penjurian.
Yoris mengatakan bahwa ada banyak ide baru yang lahir dari para peserta meski inovasi terbanyak tetap lahir dari kategori transportasi.

Bre Redana, wartawan senior Kompas yang juga menjadi juri dalam kompetisi ini mengatakan bahwa ada 2 kategori baru yang dilombakan tahun ini.

Sebelumnya, kompetisi ini hanya melombakan kategori perlengkapan rumah, kerja, waktu senggang, serta perlengkapan mengendara.
"Tahun ini ada kategori alam dan kepedulian sosial. Untuk alam, ini lebih terkait dengan usaha go green," kata Bre.

Meskipun merupakan kategori baru, cukup banyak peserta yang menghasilkan karya untuk dilombakan di kategori tersebut.
Salah satu karya dalam kategori alam, kata Bre, adalah polybag dengan bahan organik. Polybag ini bisa diuraikan oleh lingkungan dan lebih praktis.

Bre menuturkan, secara total, jumlah peserta yang mendaftar di BIA 2012 ada sekitar 2.600 peserta, sementara yang mengirimkan ada 900 karya.

Yang berbeda dari tahun lalu, tahun ini juri lebih mudah menyeleksi karya peserta karena dilakukan secara terkomputerisasi lewat aplikasi. Juri tidak lagi harus membaca propsal karya berupa tumpukan kertas.
Pada tahap berikutnya, 50 karya akan diseleksi lagi sehingga mendapatkan 20 karya paling unggul. Tahap penjurian berikutnya adalah pada 4 Juli 2012.

Djarum BIA 2012 menyiapkan hadiah total 160 juta bagi pemenang dan finalis. Pemenang juga akan mendapatkan kesempatan berkunjung ke 100% Design Shanghai.(Rgc)

Setelah disibukkan dengan penawaran saham perdananya ke publik, Facebook kembali "bekerja". Dimulai dengan mengakuisisi perusahaan yang dianggap dapat menunjang bisnisnya, seperti saat mengakuisisi Instagram.

Seperti dikutip dari Cnet, Facebook dikabarkan berencana membeli perusahaan di balik browser internet Opera tersebut.

Langkah itu bisa jadi merupakan indikasi niatan Facebook untuk terjun ke bisnis browser dengan membuat  peramban internet miliknya sendiri.

Dengan membeli Opera, Facebook akan mendapat akses ke teknologi browser tanpa harus mulai membuat dari awal.

"Sebuah browser Facebook bisa membuat penggunanya tetap up-to-date dengan kehidupan sosialnya melalui serangkaian plug-in dan fitur-fitur lain pada tampilan menunya," tulis situs teknologi Pocket-lint dalam spekulasi mengenai peramban internet bikinan Facebook.

Opera Software memiliki browser mobile yang dikenal berkualitas bagus. Selama dua tahun semenjak kemunculannya,  browser mobile Opera ini telah mengalami pertumbuhan yang kuat.

Menurut klaim dari perusahaan terkait, browser Opera dipakai oleh lebih dari 200 juta pengguna dari semua platform.

Facebook menolak berkomentar mengenai perihal akusisi ini. Di sisi lain, manajemen Opera dikabarkan sedang  terlibat pembicaraan dengan pembeli potensial tentang kemungkinan penjualan perusahaan tersebut.(Rgc)