Arrow

MENUJU RIAU 1//////////////////////////////

MENUJU RIAU 1//////////////////////////////


You are browsing with label: Showing posts with label Kisah. Show all posts


Cerita rakyat ini merupakan cerita rakyat yang berasal dari Provinsi Jambi.Di Provinsi jambi ini terkenal dengan hasil bumi durian adalah salah satunya. Di desa di Provinsi jambi, biasanya musim durian tiba satu atau dua tahun sekali dengan hasil yang berlimpah.

Dahulu kala sewaktu di Provinsi Jambi masih terdiri dari raja – raja atau kerajaan. Di sana Rakyat hidup berdampingan dengan kesejahteraan dan kedamaian berkat pemimpin yang bijaksana. Namun, di tengah kemakmuran itu tiba – tiba ada seekor harimau besar yang menghilangkan kedamaian di negeri tersebut. Harimau tersebut terus menerus menghabisi ternak masyarakat di sekitar sana, dan lama kelamaan juga menyerang warga di daerah sana.

Melihat hal ini, Raja tidak tinggal diam, dia menyuruh seorang abdinya yang sakti untuk mengatasi masalah ini. Setelah itu abdi raja pun mencari sang harimau dan dengan segala kemampuan yang dia punya dikerahkannya. Tetapi apa daya abdi Raja tersebut, bukan melukai harimau tersebut tetapi dy yang terluka parah.

Dengan kondisinya yang terluka parah, abdi Raja ini melarikan diri dari Sang harimau untuk menyembuhkan dirinya terlebih dahulu. Tetapi Sang harimau terus mengejar dia, di tengah pengejaran harimau tersebut. Sampailah mereka di sebuah desa yang bernama Desa Kemingking, yang di sana sekarang ini yang dipenuhi aroma manis dan tanahnya dipenuhi buah yang penuh duri. Karena kelelahan untuk melarikan diri akhirnya dia bertekad untuk melawan Sang harimau dengan segala kemampuan yang dia punyai, walaupun itu harus mengorbankan nyawanya. Pertarungan sengit terjadi antara keduanya. Hingga kemudian sang prajurit menyadari kehadiran buah yang permukaannya dipenuhi duri itu. Ia kemudian menggunakan buah yang di masa kini dikenal dengan nama Durian sebagai senjatanya. Dia terus melempari Sang harimau tersebut dengan durian hingga harimau itu terluka parah, dan di tengah pertempuran itu Sang harimau minta ampun karena dia menyadari bahwa ia telah kalah.

Ia pun berjanji kepada abdi raja tersebut untuk tidak menganggu warga asalkan ia diperbolehkan untuk memakan sebagian dari buah durian atau buah yang penuh duri yang tumbuh di tanah mereka. Karena melihat kesungguhan sang harimau dengan iba, maka Ia pun melepaskan Sang harimau untuk terus hidup tetapi dengan syaratnya tersebut.

Setelah itu, Abdi Raja tersebut kembali ke kerajaannya dengan membawa kemenangan atas Sang harimau. Segala hal yang terjadi dilaporkan kepada Sang Raja dan dengan perantaraan Sang Raja Ia mengumumkan sumpah Sang Harimau untuk dipatuhi dan dihormati kepada seluruh masyarakat. Sampai saat ini, masyarakat desa Kemingking terus menjaga sumpah Sang harimau. Sehingga meskipun hutan desa Kemingking Dalam termasuk dalam wilayah kekuasaan harimau, harimau-harimau ini tidak pernah menampakkan diri ataupun menyerang warga. Mereka hanya muncul di waktu malam ketika musim durian hampir usai untuk melahap buah-buah terakhir yang telah diperjanjikan untuknya.(Rgc-cr)



Beginilah Asal Usul Gunung Batu Bangkai, Konon di zaman dahulu, di suatu tempat, di provinsi Kalimantan Selatan, hiduplah seorang anak bernama Andung Kuswara bersama sama dengan janda tua. Andung Kuswara pintar dalam bidang pengobatan, Ilmu pengobatan yang ia peroleh tersebut berasal dari abahnya, tetapi abahnya sudah lama meninggal.

Suatu hari, Andung pergi ke hutan seorang diri, untuk mencari bahan – bahan pengobatan yang ia perlukan. Tetapi Di tengah perjalanan, ia melihat seorang kakek yang terluka karena terjepit pohon. Andung menolongnya dan memberikan pengobatan kepada kakek tersebut, sebagai ucapan terima kasih kakek itu memberikan kalung kepada Andu. Andu menerimanya dengan senang hati.

Hari demi hari pun berlalu dan kehidupan terus berjalan. Di tengah hari yang terik, Andung merenung dan berfikir untuk mencari kehidupan yang lebih baik, ia tidak ingin diam saja hidup miskin begini terus. Terlintas di benaknya untuk pergi merantau. Karena keinginannya yang sudah kuat itu, akhirnya ia meminta ijin kepada umanya untuk pergi merantau. Umanya tidak menahannya, karena melihat keinginan Undang yang begitu besar. Bebarapa waktu kemudian pergilah Andung dan tinggallah Uma Andung sendirian di tengah hutan belantara.

Berbulan-bulan sudah Andung meninggalkan umanya. Andung berjalan melewati banyak negeri dan perdesaan. Ilmu pengobatan yang ia punya, ia gunakan untuk mencari nafkah dan monolong orang.

Suatu hari Andung sedang memasuki negeri yang bernama Basiang. Tetapi di negeri Basiang sedang terkena wabah penyakit kulit. Andung pun mencoba mengobati penyakit salah seorang yang terkena penyakit kulit tersebut, ternyata setelah beberapa hari, orang itu sembuh. Kejadian itu membuat orang – orang di sekitar sana berbondong – bondong mencari Andung. Hingga Berita perihal kepandaian Andung dalam mengobati pun menyebar ke seluruh negeri dan sampai ke telinga Raja. Lalu mengundang Andung untuk mengobati putri Istana.

Ketika sampai di Istana, Andung sangat takjub melihat keindahan bangunan istana. Ia berjalan sambil mengamati setiap sudut istana, ukiran dan taman yang sangat indah ada disana. Sesampainya di ruangan Raja Andung di sambut dengan baik, Raja berharap sangat banyak terhadap Andung, dia sangat berharap putrinya dapat segera sembuh. Setelah berbincang – bincang cukup lama Adung di perintahkan menemui putri.

Sesampainya di ruangan Sang Putri, Andung pun dipersilakan masuk ke kamar Putri. Putri tergolek kaku di atas tempat tidurnya, wajah pucat dan tidak berdaya di lihatnya dari ekspresi wajahnya. Sesaat kemudian, Andung pun mengeluarkan seluruh kemampuannya tetapi tiada hasil. Perasaan panik mulai tampak dari muka Andung. Setelah beberapa hari berusaha mengobati Sang Putri, Andung mulai merasa lega karena keadaan putri mulai membaik.

Seluruh penghuni istana juga ikut bahagia melihat mendengar berita tentang Sang Putri. Paduka Raja sangat berterima kasih atas perbuatan baik yang dilakukan Andung. Karena rasa terima kasihnya, Raja menikahkan putri dengan Andung. Pernikahan berlangsung dengan meriah dan bahagia, tawa dan canda di sana.

Setelah hari berganti hari, Istri Andung pun hamil. Dan Sang Putri mengidam buah kasturi yang hanya tumbuh di Pulau Kalimantan. Karena cintanya kepada sang Putri begitu besar, Andung pun mengajak beberapa hulubalang dan prajurit untuk ikut bersamanya mencari buah kasturi ke Pulau Kalimantan.

Setibanya di Pulau Kalimantan, Andung berangkat ke daerah Loksado untuk mencari sebatang pohon kasturi yang dikabarkan sedang berbuah di sana. Tetapi betapa terkejutnya Andung, karena pohon kasturi itu berada tepat di depan rumahnya. Andung segera mengambil buah itu dan mengajak hulubalangnya segera kembali, karena Ia tidak ingin bertemu umanya. Ketika Andung menoleh Ia tersentak karena dia bertemu umanya. Seketika itu juga Andung berkata dan membentak kepada umanya “Hai nenek tua! Aku adalah raja keturunan bangsawan, pergilah dari sini jangan menggangu perjalanan kami”

Asal Usul Gunung Bangkai

Hancur luluh hati sang Uma dibentak dan dicaci maki, karena ia tahu pemuda tadi adalah anak kandungnya. Kalung yang dikenakannya, juga merupakan salah satu buktinya. Nenek tua itu berdoa kepada Tuhan, jika seandainya benar Dia adalah anakku, hukumlah dia. Tak lama setelah itu, Langit menjadi gelap gulita. Angin bertiup keras, suasana di sana berubah menjadi seram. Tiba-tiba kilat menyambar dan seketika itu juga Andung berubah menjadi batu berbentuk bangkai manusia. Andung tidak sempat lagi menyesali perbuatannya kepada umanya.

Di dearah sana terdapat Gunung batu yang mirip bangkai manusia Penduduk di sekitar tempat kejadian tersebut, menamai gunung tempat peristiwa itu terjadi dengan sebutan Gunung Batu Bangkai. Gunung Batu Bangkai ini dapat dijumpai di Kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.(Rgc-CR)



Selama Bulan Ramadhan 1433. POrtal Berita Riau www.riau-global.com menurunkan cerita bersambung tentang Wali Sanga-Syekh Siti Jenar. Serial ini bertajuk "Sêkar Mancawarna Wali Sanga (Sepercik Kisah Dari Jawa Di awal Zaman Peralihan).

Jawa abad ke-15! Saat kerajaan besar Majapahit sudah runtuh, dipenuhi dengan pergolakan dan pertentangan. Masa-masa itu adalah masa-masa penyebaran Islam di Pulau Jawa dan merupakan titik tolak menyebarnya Islam di nusantara.

Dêmak Bintara, salah satu kerajaan yang bercorak Islam selain Giri Kêdhaton dan Cirêbon, mati-matian berusaha mempertahankan eksistensinya. Sementara di wilayah timur Jawa sendiri, banyak kerajaan-kerajaan pecahan Majapahit yang mencoba pula untuk eksis.

Salah satunya Kerajaan Daha, yang beribukota di Kêling (sekarang Kediri), yang mengaku sebagai pewaris sah kerajaan Majapahit dan sempat menyerang Majapahit, daerah taklukan Dêmak Bintara pada 1486.

Semenjak itu Daha menyatakan sebagai Majapahit baru yang lepas dari kekuasaan Dêmak Bintara. Dêmak Bintara, tidak bisa berbuat apa-apa. Dêmak mengalami konflik di dalam tubuhnya sendiri. Ancaman-ancaman pemberontakan kerap menghantui kerajaan yang baru berdiri itu.

Yang menakutkan bagi Dêmak, bukanlah Daha, melainkan sosok muda yang merupakan pewaris sah tahta Majapahit yang ada di Pêngging, Ki Agêng Pêngging. Dia bukan saja merupakan ancaman bagi Dêmak Bintara, melainkan ancaman pula bagi Giri Kêdhaton.

Ditambah dengan pecahnya Majelis Wali Sanga dan munculnya sosok berpengaruh yaitu Syeh Lêmah Abang alias Syekh Siti Jenar yang ternyata sangat dekat dengan sosok Ki Agêng Pêngging, Dêmak semakin merasa keberadaannya ada diujung tanduk.

Selama Bulan Ramadan 1433, selama sebulan penuh, setiap hari Beritasatu.com menurunkan cerita bersambung tentang Wali Sanga-Syekh Siti Jenar. Cerita ini ditulis oleh Damar Shashangka penulis novel best seller Sabda Palon. Serial ini kami beri tajuk "Sêkar Mancawarna Wali Sanga (Sepercik Kisah Dari Jawa Di awal Zaman Peralihan).

Serial ini mengisahkan konflik yang terjadi sepanjang tahun 1493-1494. Banyak tokoh Wali Sanga ditampilkan di sini. Sangat menarik untuk disimak dan diikuti tuturannya.

Oleh :  Fabiola Ponto

Indonesia bukan hanya tentang Jawa dan Bali, tetapi juga pulau-pulau lain nan molek, mulai dari Sumatera, Sulawesi, sampai Papua. Tidak heran negeri ini begitu kaya akan budaya, sebuah keunikan luar biasa yang tidak dipunyai negara lain. Masing-masing daerah mempunyai kisah, keunikan, dan kebiasaan sendiri, termasuk adat istiadat, bahasa, bahkan pakaiannya.

Namun, bisa dikatakan betapa masih sedikitnya suvenir di negeri ini yang bercerita tentang bangsa Indonesia. Feta Prafidya Soewondo dan Peni Zulandari Suroto menyadarinya ketika melihat koleksi keluarga yang mempunyai suvenir dari berbagai negara. Dari seluruh koleksi itu, tidak satu pun merupakan suvenir yang berasal dari Indonesia.

Hal tersebut membuat keduanya penasaran dan melakukan survei. Dari survei kecil-kecilan itulah mereka menyimpulkan bahwa Indonesia bukannya tidak mempunyai suvenir.

Begitu banyak tempat pariwisata di Indonesia, hanya saja kebanyakan suvenir yang tersedia tidak dibekali identitas Indonesia. Selain itu, jarang ada suvenir Indonesia memakai format seperti yang sering ditemukan di luar negeri, misalnya berupa mug, gelas, magnet, dan piring hias.

”Kami tergelitik, ternyata iya, kok tidak ada suvenir seperti itu di Indonesia?” kata Feta.
Sebenarnya ada beberapa produsen yang membuat suvenir berupa magnet untuk kulkas meski belum terlalu banyak. Tetapi, umumnya kualitas barang yang tersedia kurang bagus, apa lagi bagi pembeli sekelas kolektor. Kualitas suvenir yang ada sama sekali tidak bisa disandingkan dengan suvenir serupa dari luar negeri.

Feta mengingatkan, kalau berkunjung ke luar negeri turis biasanya tidak kesulitan mendapatkan suvenir. Mulai dari magnet bertuliskan nama negara itu atau piring yang kerap digunakan sebagai hiasan.
”Kita sering membeli dari luar negeri, kenapa tidak sebaliknya orang- orang asing itu yang membeli dari Indonesia?” ungkapnya lagi.

Niat dan nekat

Berawal dari pemikiran itulah Feta dan Peni kemudian membangun bisnis suvenir. Bisa dikatakan keduanya berbekal niat dan nekat. Sebab, keduanya tidak mempunyai pengalaman dalam bisnis tersebut.
”Terus terang kami enggak sadar kalau bisnis ini ternyata sangat kompleks,” kata Feta.
Tidak heran, selama menjajaki bisnis yang terbilang baru mereka selami tersebut, Feta dan Peni berkali-kali melakukan uji coba. Ketika itu pula mereka kerap menemui kegagalan.

”Awalnya usaha kami ini benar-benar trial and error. Produksi yang gagal bisa mencapai 40 persen, sampai rasanya kami tidak tahu harus mengandalkan siapa,” ceritanya.

Mereka terus memutar otak. Apa lagi mereka pun tahu sesungguhnya di Indonesia tidak kekurangan sumber daya manusia perajin, mulai dari pembatik sampai penenun. Belum lagi para perajin produk lain yang mampu mendukung usaha suvenir ini.

Dari sinilah Feta dan Peni bertekad menjual suvenir seperti yang banyak tersedia di berbagai negara, tetapi dengan materi dan identitas lokal. ”Kenapa ini tidak kita lakukan, padahal identitas budaya lokal kita sangat kuat,” ungkap Peni.

Kebetulan Peni dan Feta mempunyai keinginan sama, yaitu membuat suvenir yang dengan melihatnya saja orang segera tahu bahwa suvenir tersebut berasal dari Indonesia. Mereka ingin orang asing pun mengetahui bahwa Indonesia negara yang kaya akan pulau-pulau.

Indonesia mempunyai banyak keistimewaan yang menjadi identitasnya, seperti Candi Borobudur, Tugu Monas, sampai rumah gadang di Sumatera Barat. Belum lagi ragam tarian, budaya, dan tradisi yang tak terhitung.

”Salah satu cara (memperkenalkan budaya Nusantara) dengan bercerita melalui suvenir, ada kisah di tiap kemasan ini,” katanya.

Cara seperti itu setidaknya memberi wawasan bagi kedua pihak, yaitu produsen dan konsumen. Feta dan Peni membuka banyak referensi sebelum menuangkan cerita tentang Indonesia dalam setiap produk.

Tergantung perajin

Bermodalkan uang Rp 75 juta dengan mengorek tabungan, pada 2010 Peni dan Feta merintis usaha suvenir. Dengan modal yang terbatas itu, keduanya hanya mampu memproduksi 500 potong untuk setiap jenis.

”Jangan mengira Rp 75 juta itu termasuk modal besar, malah sangat kecil. Dengan modal itu kami berusaha menceritakan banyak hal tentang Indonesia,” papar Peni.

Peni kemudian mengingatkan, di Jakarta, Rp 75 juta sama sekali bukan apa-apa. Apalagi mereka tidak tinggal di sekeliling sumber daya yang diperlukan. Oleh karena itu, mereka memerlukan modal besar untuk menguasai pasar.

”Masalahnya, kalau kita tidak bergerak, pasar kita dikuasai China yang memasukkan barang dengan konten Indonesia,” ujarnya.

Perlahan tetapi pasti, pasar domestik dan luar negeri yang mereka sasar mulai terlihat. Memasuki tahun ketiga, Feta dan Peni memproduksi empat sampai lima kali dalam setahun.

”Pasar kami baru terlihat tahun 2011. Sementara ini setiap tahun kami memproduksi sekitar 3.000 piring dan 4.000 magnet,” ungkap Peni.

Menurut Feta, keterbatasan untuk memproduksi dalam jumlah besar juga dikarenakan ketergantungan mereka terhadap perajin. Untuk gambaran, pihaknya berupaya mendukung perajin kecil dengan memesan barang dan memberikan masukan untuk perbaikan kualitas produk.

”Kami juga menantang mereka untuk memperbaiki produksi dan kualitas melalui pesanan,” ujarnya.
Meski produk mereka mulai dikenal, jangan mengira keduanya dengan senang hati melayani permintaan ekspor. Sebab, mereka berprinsip suvenir yang mengusung merek Nalini Intercraft tersebut baru bisa diperoleh bila seseorang telah mengunjungi Indonesia.

”Selain turis (lokal maupun asing), kami juga membidik (pangsa pasar) para kolektor,” tuturnya.
Sekali lagi, Feta mengingatkan bahwa melalui produk Nalini Intercraft mereka ingin bercerita. Mereka mencoba melukiskan kekayaan Indonesia melalui cuplikan-cuplikan dalam suvenir. Sebuah cerita tentang Indonesia....(Rgc-Kcm)
Pada suatu hari ada seorang gadis buta yg sangat membenci dirinya sendiri. Karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.
Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadisnya itu kalau gadisnya itu sudah bisa melihat dunia.
Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadisnya itu, yang akhirnya dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasih gadisnya itu.
Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu, ”Sayaaaang, sekarang kamu sudah bisa melihat dunia. Apakah engkau mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yg selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya.
Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik ke-2 mata yg telah aku berikan kepadamu.”
Gadis itu menangis dan menyadari kebodohannya, betapa besar pengorbanan kekasihnya selama ini tapi kekasihnya telah pergi dengan membawa luka dihati.
=============================================
Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.(sumber : http://iphincow.wordpress.com)