Arrow

MENUJU RIAU 1//////////////////////////////

MENUJU RIAU 1//////////////////////////////


Puasa yang Memerdekakan

Posted by LKAR ~ on ~ 0 comments

PESAN paling mendasar dari puasa adalah imsak, yakni menahan diri. Islam memberikan mo­men­tum yang konstruktif, me­lalui prak­tik puasa. Sehingga, ter­bentuk sebuah habitus, se­orang Mus­lim yang mam­pu me­ngen­dalikan diri dari pe­nguasaan nafsu, output yang diharapkan dari mo­men­­tum konstruktif puasa adalah takwa, laala­kum tattakkun (2: 183).
Tak­­wa ber­­makna melak­sa­na­kan semua perintah-pe­rin­tah Allah SWT dan men­jauhkan diri dari larangan Allah SWT, baik yang eskplisit dijelaskan dalam Alquran dan As-sunah, maupun yang implisit. Praktik yang paling dzahir dari puasa, memang menahan diri dari makan, minum, bersenggama pada siang hari bagi suami-istri, maupun perbuatan-perbuatan lain yang dilarang Allah SWT. Menahan diri tersebut se­olah menghilangkan ke­mer­de­kaan se­seorang untuk me­la­ku­kan se­suatu, tetapi substansi me­rdeka bagi Islam adalah mam­­pu mem­be­baskan diri dari “ken­dali nafsu”, dan mampu “me­­n­gen­dalikan naf­su”, bukan justru “pembebasan tan­pa batas” me­lalui laku yang me­rugikan dan meng­ganggu har­mo­nisasi ke­hidupan, dan bagi rasul, me­ngen­dalikan nafsu adalah perang besar menuju kemerdekaan sejati.
Larangan makan, minum, dan per­­buatan lainnya yang sejatinya ha­lal namun dilarang dilakukan di siang hari, merupakan instru­men, bagaimana Allah SWT me­latih orang beriman untuk me­ngen­dalikan nafsunya, memer­de­kakan diri dari “kendali nafsu” pada saat berpuasa maupun ke­tika tidak lagi berpuasa pada ma­lam hari, dan pada hari-hari be­rikutnya, di luar bulan Ra­madan. Dengan harapan, mampu men­jadi orang yang bertakwa, orang yang hanya menghambakan dirinya kepada Allah SWT ber­samaan dengan kepatuhan ter­hadap nilai-nilai yang diajarkan di dalam Alquran dan sunah Ra­sullulah SAW.
Sahabat, mari kita segarkan kem­bali ingatan kita, ketika pro­k­lamasi kemerdekaan RI di­ba­cakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, 66 tahun silam. Tepat, pada 17 Agustus 1945 Masehi atau 9 Ramadan 1364 Hijriyah. Se­mangat membebaskan bangsa ini dari kendali penjajah, saat itu begitu kuat. Semangat ke­mer­dekaan tersebut, tentulah di­inspirasi oleh semangat mer­deka yang juga dimiliki oleh para pe­juang kemer­dekaan, Bung Kar­no dan Bung Hat­ta serta para pe­juang kemer­de­kaan yang lain, merupakan pribadi yang tidak sudi meng­hambakan dirinya kepada pen­jajah, dan tak sudi menghambakan dirinya kepada harta benda yang me­nggadaikan negara dan mar­tabat bangsa, maka pilihan mereka adalah “merdeka” dan melawan apa dan siapa saja yang meng­ha­langi kemerdekaan tersebut. Kemauan kuat untuk merdeka, se­tidaknya terinspirasi dari nilai-nilai puasa Ramadan yang me­merdekakan hamba dari kendali nafsu, sehingga menjadi kekuatan dahsyat untuk mempertahankan dan mewujudkan kemerdekaan. Nah, Ramadan tahun ini, ber­te­patan pula dengan peringatan hari kemerdekaan Indonesia 66 Tahun, bahkan 17 Agustus nanti ber­tepatan dengan 17 Ramadan. Tang­gal 17 Agustus merupakan tanggal bersejarah dan bermakna bagi pembebasan Indonesia dari ken­dali para penjajah, yakni “Ke­merdekaan”, sedangkan tanggal 17 Ramadan merupakan hari ber­­sejarah dan bermakna bagi umat muslim, karena pada tanggal itulah, Alquran diturunkan se­ba­gai petunjuk “kemerdekaan” ba­gi umat manusia agar mampu mem­bebaskan diri dari “kendali nafsu” dan mengikuti petunjuk Allah SWT yang dijelaskan dalam Alquran.
Sahabat, agaknya bagi saya, Ra­ma­dan kali ini sangat istimewa, karena momentum yang tepat bagi Indonesia untuk kembali memaknai “puasa yang me­mer­dekakan”, sejak kemerdekaan 17 Agustus 1945, 66 tahun silam, kita memang berhasil menang da­lam perang kecil, revolusi ke­merdekaan, namun kita gagal me­nang dalam perang besar yakni melawan “nafsu”, sehingga kita tidak pernah merdeka dari ko­rupsi, nepotisme, kolusi, ke­mis­kinan, kebodohan, dan pen­jajahan ekonomi oleh asing, ser­­ta penguasa rakus dan eks­plo­itatif merampok hak rakyat. Pri­badi-pribadi rakus yang men­jadi budak nafsu terus meng­ge­rogoti hak rakyat, menjadi ham­ba nafsu yang mengabaikan kepentingan rakyat. Kebanyakan rakyat tidak paham mereka di­ram­pok karena silau dengan tam­pilan dan kata manis pen­citraan sehingga mereka tidak per­nah merdeka untuk menen­tukan sikap, karena tidak pernah bebas dari keterbelakangan in­telektual dan ekonomi.
Sahabat, momentum Ramadan kali ini harus mampu kita maknai lebih substantif, agar puasa kita tahun ini mampu mengajari kita untuk menahan diri dari perilaku ra­kus yang mendorong kita untuk me­lakukan korupsi dan kolusi, serta mampu mengajari kita un­tuk merdeka menyampaikan amar makruf nahi munkar tanpa takut. Siapa pun diri kita; pejabat, dosen, karyawan, ulama, ma­ha­siswa, maupun rakyat biasa, harus mampu memetik hikmah puasa yang memerdekaan diri dari kendali nafsu tersebut, bukan sekadar melaksanakan seremoni puasa, sebagai rutinitas yang se­kadar lewat, tanpa bekas dan tidak menghasilkan perubahan pikir dan laku. Akhirnya, kemer­dekaan yang hakiki harus kita raih sebagai individu dan bangsa. Konstelasi inilah yang menjadi ar­gumentasi kuat untuk men­ja­dikan momentum Ramadan ta­hun ini sebagai “puasa yang me­merdekakan”. Semoga. Nasrun mi­nallah wa fathun qorib.

Dahnil Anzar
*Dosen FE Untirta dan Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.
dikutip dari : http://www.radarbanten.com/newversion/utama/2229-puasa-yang-memerdekakan.html


Related Posts

No comments: